Fakta Sisi Gelap Dari Negara Jepang

Fakta Sisi Gelap Dari Negara Jepang

Fakta Sisi Gelap Dari Negara Jepang – Jepang dikenal sebagai negara yang disiplin, jujur, dan taat aturan. Sekalipun masyarakatnya homogen, tatanan negara tentu patut diapresiasi. Namun, fakta sisi gelap Jepang juga tak kalah mengejutkan. Tentu saja Jerome Polin tidak akan membeberkan fakta-fakta tentang Jepang tersebut dalam vlognya.

Fakta Sisi Gelap Dari Negara Jepang

Fakta Sisi Gelap Dari Negara Jepang

meirapenna – Masyarakat Jepang homogen, namun tatanannya sangat baik. Tidak lain adalah sejarah kelam Jepang yang mungkin bahkan mengejutkan. Berdasarkan pemberitaan berbagai sumber.

Lalu apa saja fakta-fakta tersebut? Mari kita lihat, bagaimana menurut Anda?

Industri Seks

Industri JAV adalah salah satu kelemahan global Jepang. Jika Anda mengenal Kakek Sugiono, bisa dipastikan orang tersebut pernah menonton film dewasa buatan Jepang. Di Jepang, komik, buku, dan film dengan konten dewasa tidak dilarang, namun dibatasi. Hanya orang yang berusia di atas 18 tahun yang dapat membelinya.

Fenomena joshi-kousei (siswi SMA) juga menjadi salah satu sisi gelap industri hiburan Jepang. Entah mereka siswa SMA sungguhan atau wanita dewasa yang berkostum, faktanya di “lokalisasi” Tokyo, banyak wanita berkostum siswa SMA yang menawarkan “paket hiburan” ini. Yang tak kalah pentingnya, “penghibur” yang berpakaian sangat keren juga menarik perhatian.

Bullying

Di balik kedisiplinan dan kemandirian anak-anak sekolah Jepang, terdapat fakta mengejutkan bahwa hampir semua anak pernah mengalami perundungan di sekolah , baik secara lisan maupun tindakan. Yang paling banyak adalah siswa kelas 2 SD (data tahun 2019, 96.366 siswa kelas 2 SD mengaku pernah mengalami episode bullying). Berdasarkan data, siswa SD lebih banyak yang menderita penyakit ini dibandingkan siswa SMP dan SMA. Nobita, salah satunya. Sedih sekali, ya.

Yang parahnya, budaya bullying sudah ada sejak lama bahkan ada yang sampai melakukan bunuh diri. Mereka meninggalkan surat perpisahan dan menulis bahwa mereka telah diintimidasi. Jadi, bisakah pelaku intimidasi dipenjara? Tentu tidak semuanya bisa tunduk pada pasal undang-undang yang berlaku saat ini.

Pelecehan Seksual

Selain budaya patriarki yang menjadi ciri khas Jepang hingga As. Kenyataan bahwa Jepang masih berprasangka buruk terhadap perempuan tidak dapat disangkal dari sudut pandang saat ini. Sekalipun mereka mengalami pelecehan seksual di tempat kerja, banyak perempuan yang merasa malu dan takut untuk bersuara.

Yang paling mengejutkan adalah banyaknya pencurian pakaian dalam wanita. Hal ini sering terjadi pada wanita yang tinggal sendiri atau bahkan sudah berkeluarga. Namun hal tersebut tidak dilaporkan ke polisi.

Aman tetapi tetap ada kriminalitas

Meskipun Jepang aman, masih ada kejahatan. Banyak cerita yang menceritakan pengalaman mengembalikan dompet yang hilang ke alamat pemiliknya, dan itu tidak bohong. Namun perlu ditegaskan juga bahwa tidak semua orang kembali, karena kalaupun mereka kembali, uang yang ada di dompetnya bisa hilang.

Saya setidaknya pernah mengalami satu kali payung dan barang belanjaan yang tadinya diletakkan di keranjang sepeda di tempat parkir tiba-tiba hilang. Aku kaget, katanya aman kan? Atau uang yang saya tarik dari ATM tapi lupa tariknya hilang dan dicuri orang lain. Melapor ke polisi berarti mengisi laporan. Pengampunan.

Oh iya kalau ada kejahatan biasanya aneh banget. Ingat kasus Joker yang menyebabkan kekacauan di kereta Jepang? Kasus serupa juga banyak lho. Horor, ya.

Baca juga : Masakan Jepang Yang Terkenal

Jaga jarak dari orang asing

Jika ini terjadi, Anda harus menjaga jarak Anda siap secara mental untuk emigrasi ke Jepang. Tidak ada diskriminasi, namun mereka memilih menjaga jarak dengan orang asing. Jika mereka tidak benar-benar perlu melakukannya, mereka memilih untuk tidak ambil pusing. Hal ini terjadi karena mereka tidak percaya diri atau tidak mau peduli. Atau ya, dasar orang Jepang adalah individualismenya yang tinggi.

Selama kuliah di Jepang, saya mempunyai beberapa teman orang Jepang. Alasan pekerjaan dan kendala bahasa mungkin menjadi alasan mengapa mereka sulit bergaul dengan orang asing. Hal yang sama juga berlaku bagi pekerja migran. Butuh waktu lama bagi pekerja Jepang untuk “menerima” pekerja migran asing. Jadi jangan kaget.

Sisi Gelap Negara Jepang

Penggila kerja

Kalau soal pekerjaan, orang Jepang sebenarnya seperti pekerja keras yang dikenal seperti itu. Di sisi lain, mereka tampak ambisius dan bersemangat. Bekerja maksimal pada jam kerja adalah hal yang lumrah, namun tidak mendapat bayaran di luar jam kerja bukanlah hal yang lumrah. Minum-minum sepulang kerja atau bermain golf di akhir pekan adalah “budaya kerja” mereka. Sesekali nggak apa-apa, kalau tiap hari capek juga.

Oleh karena itu, pemandangan pekerja upahan yang tertidur dalam keadaan mabuk di stasiun kereta api di wilayah metropolitan Tokyo mungkin merupakan hal biasa. Bahkan jika Anda pulang kerja dengan benar pada jam 1 pagi, itu normal. Tak heran jika banyak pekerja Jepang yang meninggal karena kelelahan kerja (karoushi).

Gelandangan

Awalnya saya mengira Jepang adalah negara maju yang penduduknya tidak mungkin miskin. Namun pemikiran tersebut sirna ketika ia melihat sendiri bahwa ada para tunawisma di Osaka dan Tokyo. Mereka bisa “bersembunyi” di siang hari, namun pada malam hari mereka mulai tidur di bawah jembatan layang, stasiun kereta api, tepian sungai atau taman kota. Berita bahwa pemerintah Jepang menindak tunawisma di Tokyo menjelang Olimpiade Tokyo kemarin juga menjadi viral.

Kota Kamagasaki (nama diubah menjadi: Airin-chiku), yang terletak di Nishinari-ku, Osaka, juga menjadi masalah kemiskinan di Jepang. Jika ditelusuri sejarahnya, Kamagasaki pada tahun 1960-an merupakan tempat para pekerja lepas di seluruh Jepang yang ingin mencari pekerjaan sehari-hari. Karena mereka merupakan pekerja tidak terampil, mereka rela dibayar murah. Menurut data, terdapat sekitar 6.235 “tunawisma” di seluruh Jepang selama periode 2012-2016, yang sebagian besar berada di Osaka dan Tokyo.

Agak menyedihkan karena sebenarnya banyak sekali lowongan yang terbuka di Jepang. Namun sekali lagi, jika Anda tidak memiliki keterampilan, tentu Anda tidak bisa diterima bekerja. Sebaliknya, pemerintah Jepang “mengimpor” tenaga kerja asing, padahal banyak pengangguran.

Setidaknya 7 fakta ini mengingatkan kita bahwa dibalik indahnya pariwisata Jepang dan kemajuannya terdapat sisi gelap yang menjadi permasalahan tersendiri.

Baca juga : Rahasia Sukses Orang Jepang Yang Patut Kamu Tiru

Jumlah tunawisma di jalanan

Meskipun Jepang dikenal sebagai negara maju, tidak dapat disangkal bahwa terdapat banyak tunawisma di Osaka dan Tokyo. Bahkan selama Olimpiade Tokyo, pemerintah Jepang mengawasi para tunawisma di Tokyo agar tidak mengganggu mereka.

Pada siang hari, para tunawisma bersembunyi di suatu tempat. Pada malam hari mereka tidur di bawah jembatan layang, stasiun kereta api, bahkan taman kota.

Bunuh diri adalah hal biasa

Orang melakukan bunuh diri karena terlalu banyak bekerja atau menganggur. Pengangguran menjadi penyebab utama 57% kasus bunuh diri.

Selain itu, banyak orang melakukan bunuh diri karena tekanan sosial, intimidasi, dan stres. Itu sebabnya ada hutan di Jepang yang dianggap sebagai tempat paling populer untuk bunuh diri.

Tidak jarang orang melakukan bunuh diri di rel kereta api. Mengetahui kejadian bunuh diri dianggap wajar oleh masyarakat karena sering terjadi.

Written by